Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, June 7, 2011

Kelor (Moringa oleifera), Tanaman Bermanfaat untuk Berantas GIZI BURUK...!

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sudah melewati satu dekade, dan telah menimbulkan banyak dampak negatif terutama dari sektor kesehatan dan gizi masyarakat. Salah satu dampak yang terlihat sekarang ini adalah rendahnya konsumsi makanan bergizi terutama bagi anak-anak di perkotaan atau pedesaan. Daya beli yang rendah bagi penduduk kelas menengah ke bawah, menyebabkan banyak orang tidak bisa membeli makanan bergizi seperti susu, daging dan telur.

Ditambah lagi dengan kenaikan harga produk peternakan seperti daging, telur dan susu akhir-akhir ini, semakin mempersulit keadaan. Hal ini terbukti dengan banyaknya anak-anak balita yang meninggal akibat kekurangan gizi atau gizi buruk. Sosialisasi minum susu dan makanan bergizi kepada murid-murid sekolah dasar, dan kegiatan sejenis lainnya tidak banyak berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi susu atau produk peternakan lainnya. Sekali lagi hal ini berkaitan dengan daya beli masyarakat yang semakin rendah.

“bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu”..”Orang bilang tanah kita tanah sorga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”, dua penggal cuplikan lagu koes plus yang menyatakan bahwa negeri kita yang subur, semuanya ada dan bisa ditanam, tumbuh atau hidup dinegara kita. Lagu ini hanya akan menjadi kenangan yang indah saja, bila rakyat Indonesia kekurangan gizi didaerahnya cukup subur ini. Padahal Indonesia memiliki banyak potensi keanekaragaman hayati yang sebelumnya terbukti telah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita. Salah satu tanaman yang bisa dimanfaatkan dengan baik dan banyak tumbuh serta mudah dibudidayakan di Indonesia; diantaranya tanaman Kelor (Moringa oleifera, Lamk).

Kandungan Gizi Tanaman Kelor (Moringa oleifera, Lamk) (per 100 g)
BijiDaunTepung daun
Kadar Air (%)86.975.07.5
Calori2692205
Protein (g)2.56.727.1
Lemak (g)0.11.72.3
Carbohydrate (g)3.713.438.2
Fiber (g)4.80.919.2
Minerals (g)2.02.3-
Ca (mg)304402,003
Mg (mg)2424368
P (mg)11070204
K (mg)2592591,324
Cu (mg)3.11.10.57
Fe (mg)5.3728.2
S (mg)137137870
Oxalic acid (mg)101011.6%
Vitamin A - B carotene (mg)0.116.816.3
Vitamin B -choline (mg)423423-
Vitamin B1 -thiamin (mg)0.050.212.64
Vitamin B2 -riboflavin (mg)0.070.0520.5
Vitamin B3 -nicotinic acid (mg)0.20.88.2
Vitamin C -ascorbic acid (mg)12022017.3
Vitamin E -tocopherol (mg)--113
Arginine (g/16g N)3.66.01.33%
Histidine (g/16g N)1.12.10.61%
Lysine (g/16g N)1.54.31.32%
Tryptophan (g/16g N)0.81.90.43%
Phenylanaline (g/16g N)4.36.41.39%
Methionine (g/16g N)1.42.00.35%
Threonine (g/16g N)3.94.91.19%
Leucine (g/16g N)6.59.31.95%
Isoleucine (g/16g N)4.46.30.83%
Valine (g/16g N)5.47.11.06%
(From Moringa oleifera: Natural Nutrition for the Tropics by Lowell Fuglie)

Tanaman kelor telah digunakan oleh nenek moyang kita sebagai tanaman untuk sayur, obat atau sebagai lalapan. Tanaman ini adalah tanaman yang toleran terhadap musim kemarau yang panjang, dan bertahan hidup dengan merontokkan daunnya pada saat kemarau. Kelor termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 5 -11 meter. Pohon Kelor tidak terlalu besar, batang kayunya mudah patah dan cabangnya agak jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur (oval) dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai.

Tanaman kelor mengandung gizi yang tinggi dan sangat bermanfaat untuk perbaikan gizi. Terbukti bahwa kelor telah berhasil mencegah wabah kekurangan gizi di beberapa negara di Afrika dan menyelamatkan banyak nyawa anak-anak dan ibu-ibu hamil. Dilihat dari nilai gizinya kelor adalah tanaman berkhasiat sejati (miracle tree), artinya tanaman ini bisa dimanfaatkan dari akar, batang, buah dan daun serta mengandung gizi tinggi. Kandungan gizi daun kelor segar (lalapan), setara dengan; 4x vitamin A yang dikandung wortel, 7x vitamin C yang terkandung pada jeruk, 4x mineral Calsium dari susu, 3x mineral Potassium pada pisang, 3/4x zat besi pada bayam, dan 2x protein dariyogurt. Sedangkan kandungan gizi daun kelor yang dikeringkan setara dengan; 10x vitamin A yang dikandung wortel, 1/2x vitamin C yang terkandung pada jeruk, 17x mineral Calsium dari susu, 15x mineral Potassium pada pisang, 25x zat besi pada bayam, dan 9x protein dari yogurt.

Tanaman yang berasal dari negara India, dan berkembang sampai ke samudera pasifik, Amerika Latin, Asia Tenggara dan Afrika ini dipakai sebagai tanaman anti-santet, atau tanaman berkhasiat untuk mengatasi ilmu hitam di Indonesia. Selain itu juga sebagian penduduk di Indonesia sudah memakai tanaman ini sebagai sayur atau lalapan serta obat tradisional. Di India kelor berkhasiat sebagai obat; anemia, anxiety, asma, bronchitis, katarak, kolera, conjunctivitis, batuk, diarrhea, infeksi mata dan telinga, demam, gangguan kelenjar, sakit kepala, tekanan darah tidak normal, radang sendi, gangguan pernafasan, scurvy,kekurangan cairan sperma dan tuberculosis.

Di beberapa negara, tanaman kelor diolah dalam bentuk makanan seperti; tepung daun kelor, bubur, sirup, teh daun kelor, sauce kelor, biskuit kelor dan lainnya. Sementara itu di Indonesia sedikit sekali orang yang memanfaatkan tanaman kelor ini sebagai makanan. Dengan banyaknya aneka masakan yang ada Indonesia kenapa kita tidak bisa memanfaatkan kelor sebagai bahan makanan kita sehari-hari?, apalagi dengan tingginya harga daging, susu dan telur saat ini.

Dengan banyaknya korban gizi buruk, kenapa kita tidak memanfaatkan dan mengembangkan tanaman ini? (buat yang peduli aja.... ya!)

'Smoga tidak ada kata bangsa ini kena Gizi Buruk..'



Selengkapnya...

Wednesday, January 26, 2011

KAJIAN PESTISIDA TERHADAP LINGKUNGAN DAN KESEHATAN SERTA ALTERNATIF SOLUSINYA

Dalam proses intensifikasi sekarang ini berbagai kendala sosial-ekonomi dan teknis bermunculan. Masalah organisme pengganggu tanaman (OPT, hama – penyakit – gulma) yang mengakibatkan penurunan dan ketidakmantapan produksi belum dapat diatasi dengan memuaskan. Kehilangan hasil akibat OPT diperkirakan 40 – 55 %, bahkan bisa terancam gagal.

Dilema yang dihadapi para petani saat ini adalah bagaimana cara mengatasi masalah OPT tersebut dengan pestisida sintetis. Di satu pihak dengan pestisida sintetis, maka kehilangan hasil akibat OPT dapat ditekan, tetapi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Di pihak lain, tanpa pestisida kimia akan sulit menekan kehilangan hasil akibat OPT. Padahal tuntutan masyarakat dunia terhadap produk pertanian menjadi bertambah tinggi terutama masyarakat negara maju, tidak jarang hasil produk pertanian kita yang siap ekspor ditolak hanya karena tidak memenuhi syarat mutu maupun kandungan residu pestisida yang melebihi ambang toleransi.

Pestisida secara luas diartikan sebagai suatu zat yang bersifat racun, menghambat pertumbuhan atau perkembangan, tingkah laku, bertelur, perkembang biakan, mempengaruhi hormon, penghambat makan, membuat mandul, sebagai pemikat, penolak dan aktivitas lainnya yang mempengaruhi OPT. Tidak kita pungkiri bahwa dengan pestisida sintetis telah berhasil menghantarkan sektor pertanian menuju terjadinya “revolusi hijau”, yang ditandai dengan peningkatan hasil panen dan pendapatan petani secara signifikan, sehingga Indonesia bisa mencapai swasembada pangan pada tahun 1986. Dalam revolusi hijau target yang akan dicapai adalah berproduksi cepat dan tinggi, sehingga diperlukan teknologi masukan tinggi diataranya penggunaaan varietas unggul, pemupukan berat dengan pupuk kimia, pemberantasan hama dan penyakit dengan obat-obatan kimia. Pada tahun ini konsepsi untuk menanggulangi OPT ialah pendekatan UNILATERAL, yaitu menggunakan satu cara saja, PESTISIDA.
Ketika itu pestisida sangat dipercaya sebagai “ASURANSI” keberhasilan produksi; tanpa pestisida produksi sulit atau tidak akan berhasil. Karena itu pestisida disubsidi sampai sekitar 80 % dari harganya, hingga petani dapat membelinya dengan harga “murah”. Sistem penyalurannyapun diatur sangat rapih dari pusat sampai ke daerah-daerah. Pestisida diaplikasikan menurut jadwal yang telah ditentukan, tidak memperhitungkan ada hama atau tidak. Pemikiran ketika itu ialah “melindungi” tanaman dari kemungkinan serangan hama. Promosi pestisida yang dilakukan oleh para pengusaha pestisida sangat gencar melalui demontrasi dan kampanye. Para petani diberi penyuluhan yang intensif, bahwa hama-hama harus diberantas dengan insektisida. Dalam perlombaan hasil intensifikasi, frekuensi penyemprotan dijadikan kriteria, makin banyak nyemprot, makin tinggi nilainya.

KONSEKUENSI LINGKUNGAN DARI PENGGUNAAN PESTISIDA
Ternyata, puncak kejayaan pestisida sekitar tahun 1984-1985 telah membawa dampak yang sangat dahsyat terhadap ekosistem yang ada. Meskipun penggunaan pestisida makin ditingkatkan , masalah hama-hama terutama wereng tidak dapat diatasi, malah makin mengganas. Kita tidak sadar, bahwa mengganasnya hama wereng tersebut akibat penggunaan pestisida yang berlebihan. Pestisida juga menimbulkam masalah lingkungan seperti matinya makhluk bukan sasaran (ikan, ular, katak, belut, bebek, ayam, cacing tanah dan serangga penyerbuk) dan musuh alami (predator, parasitoid), residu pestisida dalam bahan makanan, pencemaran air, tanah, udara dan keracunan pada manusia serta ongkos produksi yang sangat mahal dan sia-sia.

Gejala keracunan pada manusia yang timbul secara umum badan lemah atau lemas. Pada kulit, menyebabkan iritasi seperti terbakar, keringat berlebihan, noda. Pada mata, gatal, merah berair, kabur atau tidak jelas, bola mata mengecil atau membesar. Pengaruh pestisida pada sistem pencernaan seperti rasa terbakar pada mulut dan tenggorokan, liur berlebihan, mual, muntah, sakit perut dan diare. Sedang pada sistem syaraf, seperti sakit kepala, pusing, bingung, gelisah, otot berdenyut, berjalan terhuyung-huyung, bicara tak jelas, kejang-kejang tak sadar. Pada sistem pernafasan, batuk, sakit dada dan sesak nafas, kesulitan bernafas dan nafas bersuara.

Kenyataan ini mendorong pemerintah secara bertahap mengubah kebijakan pemberantasan hama dari pendekatan UNILATERAL ke pendekatan yang KOMPREHENSIF, berdasarkan prinsip-prinsip ekologis yang dikenal dengan PENGELOLAAN HAMA TERPADU (PHT). Akhirnya tahun 1986, pemerintah melarang penggunaan 57 formulasi pestisida pada padi dan tahun 1996 melarang ke 57 formulasi tersebut pada semua tanaman dan tidak menerima lagi pendaftaran ulang bagi pestisida yang sudah berakhir masa berlakunya. Diantaranya DDT, Thiodan 35 EC, Nuvacron 150 WSC, Basudin 60 EC, Azodrin 15 WSC, dll. Larangan tersebut diikuti dengan pencabutan subsidi pestisida sekitar tahun 1989 sehingga harga melambung tinggi. Dukungan politik PHT dengan dikeluarkannya INPRES No. 3/1986 dan diperkuat dengan Undang-Undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, khususnya pada pasal 20 tentang Sistem PHT dan pasal 21 tentang kegiatan perlindungan tanaman serta pasal 40 tentang larangan atau pembatasan penggunaan pestisida tertentu.

PHT adalah suatu cara pendekatan/cara berfikir/falsafah pengendalian hama didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam kerangka pengelolaan agroekosistem secara keseluruhan. Konsep PHT merupakan suatu konsep atau cara pendekatan pengendalian hama yang secara prinsip berbeda dengan konsep pengendalian hama konvensional yang selama ini sangata tergantung pada pestisida. Konsep ini timbul dan berkembang di seluruh dunia kerena kesadaran manusia terhadap bahaya penggunaan pestisida yang terus meningkat bagi lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat. Konsep PHT sangat selaras dengan pertanian berkelanjutan, yaitu pertanian yang memenuhi kebutuhan kini tanpa berdampak negative atas sumber daya fisik yang ada, sehingga tidak membahayakan kapasitas dan potensi pertanian masa depan untuk memuaskan aspirasi kebendaan dan lingkungan generasi mendatang. Dalam pertanian berkelanjutan mencakup konsep antara lain;

1. Meminimumkan ketergantungan pada energi, mineral dan sumber daya kimiawi yang tidak terbarukan,
2. Menurunkan pengaturan udara, air dan lahan di luar kawasan usaha tani,
3. Harus mempertahankan kecukupan habitat bagi kehidupan alami,
4. Konservasi sumber daya genetik dalam species tumbuhan dan hewan yang diperlukan pertanian,
5. Sistem pertanian harus mampu mempertahankan produksi sepanjang waktu menghadapi tekanan-tekanan ekologi, sosial dan ekonomi, dan
6. Kegiatan produksi jangan sampai menguras sumber daya terbarukan.


PESTISIDA DALAM PHT
Tentunya timbul pertanyaan, dimana letak pestisida dalam konsep PHT. Apakah Pestisida masih diperlukan ? Jawabannya masih diperlukan tetapi sangat selektif tetapi sasaran kualitas dan kuantitas produksi pertanian masih tetap tinggi. Pestisida hanya diperlukan pada waktu mekanisme kesetimbangan ekosistem terganggu oleh sesuatu sebab yang mengakibatkan populasi hama meningkat sampai melalui ambang ekonomi. Selama populasi hama masih berada di bawah ambang ekonomi, maka penggunaan pestisida secara rasional ekonomik dianggap mendatangkan kerugian dan secara ekologik penggunaan pestisida pada aras tersebut akan mengganggu bekerjanya proses pengendalian alami.

Pengendalian alami adalah pengendalian hama yang terjadi di alam tanpa campur tangan manusia . Alam terdiri atas faktor fisik atau non hayati dan hayati dapat menjadi faktor pembatas perkembangbiakan hama. Faktor non hayati misalnya iklim, tanah dan air dari suatu habitat, udara beserta oksigen dan gas lain yang diperlukan bagi kehidupan hama, dapat mendorong atau menekan perkembangbiakan hama. Sementara itu, faktor hayati yang berupa musuh alami yang bekerja dengan sendirinya di alam menjadi bagian dari pengendalian alami. Kegiatan musuh alami juga ikut dipengaruhi faktor non hayati. Dengan demikian pengendalian alami merupakan gabungan kegiatan faktor hayati dan non hayati yang menekan perkembangbiakan haman tanpa campur tangan manusia dan jika dengan campur tangan manusia dinamakan pengendalian hayati.

Agar petani dapat memutuskan secara tepat kapan dan di mana penyemprotan harus dilakukan, maka mereka harus melakukan pengamatan rutin atau monitoring paling sedikit seminggu sekali. Yang diamati tentang keadaan populasi hama, populasi musuh alami, pertumbuhan tanaman, cuaca, dan lain-lainnya. Setelah petani mengadakan analisis terhadap data ekosistem yang terkumpul, dengan menggunakan pengertian tentang prinsip ekologi dan ekonomi yang sederhana, dengan penuh keyakinan petani dapat memutuskan perlu atau tidak digunakan pestisida.

Dengan mengelola lingkungan pertanian secara tepat melalui perpaduan berbagai teknologi pengendalian yang bukan pestisida, maka populasi hama selama satu musim tanam dapat diupayakan untuk selalu berada pada aras yang tidak mendatangkan kerugian ekonomik bagi petani. Dalam keadaan demikian tentunya petani tidak perlu lagi menggunakan pestisida dan cukup mempercayakan pengendalian hama kepada teman-teman petani yang berupa musuh alami yang ada di pertanaman. Apabila petani selalu memelihara kesehatan tanaman melalui budidaya tanaman yang tepat, maka sasaran produktivitas tinggi dapat dicapai dengan biaya pengendalian hama yang minimal.

SARAN DAN SOLUSI
Upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap input bahan kimiawi dalam proses produksi pertanian dapat ditempuh melalui gerakan pertanian organik. Gerakan ini mulai memasyarakat terutama di negara-negara maju yang masyarakatnya alergi dengan produk bahan kimia. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menciptakan produk pertanian yang bersih, meliputi :

1. Penggunaan varietas unggul tahan hama penyakit dan tekanan / hambatan lingkungan,
2. Penerapan teknik budidaya yang mampu mengendalikan OPT dan penggunaan pupuk organik,
3. Peramalan terhadap serangan hama penyakit,
4. Pengendalian OPT secara biologis,
5. Memacu penggunaan pestisida botani.

Perbaikan Teknik Budidaya
Penerapan teknik budidaya meliputi ; penataan pola tanam dan sistem tanam, dan pengaturan jarak tanam dan pemupukan dapat menekan perkembangan OPT. Pengaturan pola tanam dalam setahun (tumpang gilir) dengan tanaman yang berbeda OPT-nya, diharapkan dapat memutus siklus hidup dari OPT. Dengan bertanam secara campuran (mixed cropping) effisiensi lahan dapat ditingkatkan, resiko kegagalan dapat dikurangi, sehingga pendapatan petani dapat ditingkatkan.

Dari segi perkembangan OPT sistem tumpang sari sangat menguntungkan apabila tanaman yang ditumpangsarikan memiliki hama yang berbeda dan saling menguntungkan. Sebagai contoh tumpang sari kapas dengan jagung, di mana jagung berfungsi sebagai perangkap (trap crop) bagi hama Heliothis armigera dan kacang hijau dapat menarik predator bagi hama kapas.

Penggunaan pupuk organik (pupuk kandang, pupuk hijau dan kompos) sebagai pelengkap dan penyeimbang pupuk buatan, selain mensuplai unsur hara juga berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pemberian pupuk organik dapat meningkatkan kapasitas menahan air, sifat penyangga (buffer) tanah dan meningkatkan mikroorganisme dalam tanah yang berguna bagi tanaman.

Peramalan Terhadap Serangan Hama dan Penyakit
Peramalan terhadap serangan hama penyakit untuk mengetahui dinamika populasi HPT yang dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan cara pengendalian HPT. Pengendalian HPT berpedoman pada ambang kendali dimaksudkan untuk menentukan saat pengendalian HPT secara tepat, memberikan hasil yang maksimal dan menghemat penggunaan pestisida.

Pengendalian Hama Penyakit Secara Biologi
Secara alami tiap spesies memiliki musuh alami (predator, parasit, dan patogen) yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama tanaman. Peningkatan penggunaan pestisida hayati dengan bahan aktifnya jasad renik penyebab penyakit hama khususnya serangga akan mengurangi ketergantungan terhadap insektisida kimiawi. Sebagai contoh pestisida hayati dalam produk NASA adalah Natural BVR bahan aktif Beauveria bassiana. Natural GLIO bahan aktif Gliocladium dan Trichoderma, dan Natural VITURA bahan aktif Sl – NPV (Spodoptera litura – Nuclear Polyhidrosis Virus) dan Natural VIREXI.

Penggunaan Pestisida Botani

Pestisida botani atau pestisida alami bahan aktifnya berasal dari berbagai produk metabolik sekunder dalam tumbuhan. Misal Rotenon dari akar tuba (Derris eliptica) dan Azadarachtin dari Mimba (Azadirachta indica). Pestisida botani memiliki beberapa keunggulan yaitu tidak mencemari lingkungan, masa aktif residu lebih pendek, mudah dilaksanakan dan murah. Mekanisme kerja pestisida botani ini bersifat racun kontak, racun perut maupun bersifat sistemik. Pestisida botani berfungsi sebagai zat pembunuh, penolak, pengikat dan penghambat pertumbuhan OPT, misal PESTONA dan PENTANA.

(distributor-pupuk-tanaman.blogspot.com)


Selengkapnya...

Tuesday, January 25, 2011

Menjadikan Petani Modern dan Profesional

Pasokan bahan pangan yang bersumber dari produk-produk pertanian sangat menunjang semua aktivitas kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan ketersediaan makanan, masyarakat dapat menjalani semua kegiatan dengan baik, bekerja dengan baik, dan para siswa juga dapat belajar dengan nyaman. Pemerintah pun dapat membangun dengan tenang tanpa perlu merasa khawatir mengalami masalah guncangan pasokan dan harga pangan.

Demikian strategisnya pertanian bagi suatu bangsa, karenanya pembangunan sektor pertanian sudah saatnya mulai berorientasi pada pengembangan sebuah sistem pertanian modern, baik dari segi teknologi peralatan maupun dari pengetahuan sektor-sektor yang terlibat di dalamnya, tanpa terkecuali petani. Pada masa pendudukan Belanda di Indonesia, sejarah pertanian Indonesia sempat mengalami masa kelam dengan adanya sistem tanam paksa atau cultuur stelsel yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu.

Bagi bangsa Indonesia, kebijakan pemerintah kolonial tersebut merupakan sebuah penderitaan yang sangat memberatkan. Saat itu, petani dipaksa menanam setidaknya 20 persen dari lahan mereka untuk tanaman ekspor, seperti kopi atau palawija.

Namun tidak bagi bangsa Belanda. Kebijakan yang dipaksakan ke masyarakat Indonesia ini ternyata telah mendatangkan kekayaan yang luar biasa bagi Kerajaan Belanda. Hasil pertanian dari kebijakan cultuur stelsel itu pun mampu mengubah kas keuangan negara Belanda yang semula defisit menjadi surplus.

Dengan fakta sejarah tersebut, sebenarnya bisa ditarik sebuah pelajaran bahwa sektor pertanian Indonesia yang kaya memerlukan pengelolaan yang tepat sehingga potensi pertanian ini mampu untuk mentransformasikan Indonesia menjadi negara yang maju.

“Petani sebagai ujung tombak pertanian Indonesia harus segera bermetamorfosis menjadi petani yang modern dan profesional agar dapat mengolah kekayaan alam sumber daya pertanian secara maksimal sehingga pada akhirnya mampu bersaing dengan negaranegara penghasil pertanian lainnya,” kata Bungaran Saragih, pemerhati masalah pertanian yang juga mantan Menteri Pertanian.

Pertanian modern, digambarkan Bungaran, merupakan sistem pertanian dengan skala usaha pertanian yang ekonomis, penggunaan teknlogi paling mutakhir, dengan organisasi yang modern, serta terkait dengan sektor-sektor agribisnis. “Jadi konsepnya diarahkan pada konsep agribisnis, agro-industri.

Bukan sekadar pada pola pertanian bercocok tanam,” kata Bungaran. Sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Australia, adalah negara-negara yang bisa dijadikan rujukan mengenai pembangunan pertanian mereka secara profesional dan modern.

Australia, misalnya, merupakan negara maju yang berbasis pertanian. Beberapa komoditas andalan ekspor mereka di antaranya apel, jeruk, gandum, stroberi, sapi, dan domba. Pengembangan pertanian negara tersebut dibangun dengan sangat kuat dengan dukungan pada penelitian dan pengembangan bidang pertanian, termasuk penyuluhan petanian profesional.

Kurang Sosialisasi

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Agus Nugroho Setiawan, menilai banyak pihak yang berperan dalam mentransformasikan pertanian, dari pertanian tradisional menjadi pertanian yang modern. Dari pertanian yang hanya bercocok tanam untuk mempertahankan hidup semusim atau berorientasi jangka pendek sampai pola pertanian yang berorientasi pada pasar dan orientasi jangka panjang.

“Petani kita memang sebagian besar masih menganggap pertanian hanya sekadar bercocok tanam. Titik,” kata Agus. Penyuluh memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membantu mentransformasikan pertanian Indonesia dari petani tradisional ke arah pertanian modern. Namun, pada dasarnya, Indonesia bukanlah kekurangan penyuluh pertanian.

Menurutnya, di lapangan banyak penyuluh pertanian yang tidak hanya berasal dari pemerintah, tetapi juga dari kalangan swasta, termasuk dari kalangan pendidikan. “Yang menjadi permasalahan adalah sosialisasi kepada petani yang masih sangat kurang sehingga petani seolah-olah belum teredukasi tentang bagaimana cara pengelolaan pertanian yang lebih modern dan profesional,” kata Agus.

Selama ini, menurutnya, banyak kajian di bidang pertanian, termasuk penelitian yang dilakukan pusat-pusat penelitian, baik swasta maupun perguruan tinggi, yang hanya berhenti pada laporan atau dalam jurnal-jurnal, namun minus diimplementasikan pada pengguna, dalam hal ini para petani. “Jadi ya sudah, petani tahunya bertani ya bercocok tanam.

Padahal bercocok tanam itu hanya bagian dari sistem pertanian,” tambah Agus. Agus juga mengingatkan bahwa keberhasilan negara-negara tetangga, seperti Th ailand, dalam pengembangan sektor pertanian adalah adanya dukungan penuh dari pihak pemerintah, dalam hal ini pihak kerajaan dalam kebijakan-kebijakan yang diambil.

“Kebijakan politik yang diambil selalu berpihak pada keberadaan petani sehingga pertanian di sana maju. Misalnya, kebijakan pendanaan bagi petani, pembangunan sarana dan prasarana.

Padahal kalau kita melihat, sebagian besar komoditas mereka berasal dari bibit Indonesia,” ujar Agus. Bungaran sepaham dengan Agus. Tranformasi sektor pertanian menjadi pertanian yang modern dan profesional jelas membutuhkan dukungan strategi kebijakan pemerintah. Tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan juga strategi jangka panjang.

Strategi utama untuk membangun petani yang modern dan profesional salah satunya, menurut Bungaran, adalah dengan penguatan ekonomi petani dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas sumber daya manusia diperlukan agar mereka dapat diberdayakan, bukan diperdaya oleh pasar dan para mafia ekonomi.

Menurut Agus, langkah pertama dalam penguatan ekonomi pertanian adalah reorientasi pada pendekatan produksi pertanian yang bermuara pada pendapatan petani. Sedang pada peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah dengan merancang strategi penyuluhan yang bisa tepat sasaran kepada para petani, efektif, dan efisien.
nik/L-1
Selengkapnya...